Wingko Babad Teflon


Assalam'ualaikum

November 2015 silam saya ikut ibu mertua yang sedang pulang kampung ke tanah kelahirannya di Blitar, Jawa Timur, tepatnya di Desa Gunung Gede. Ini adalah perjalanan pertama saya ke Pulau Jawa, dan saya cukup takjub ketika tahu bahwa Jawa sangat padat, khususnya tak jauh setelah keluar dari Bandara Juanda menuju kota Malang. Sepanjang perjalanan itu hanya diwarnai dengan kepenatan. Saya terjebak macet di sana selama berjam-jam, entah berapa jam tepatnya.

Itu sekilas cuplikan awal perjalanan saya ke Pulau Jawa. Mungkin tidak terlalu penting untuk diceritakan, tapi setiap kedatangan pasti ada kepulangan. Itulah yang akan saya tuliskan.

Selama dua minggu berada di Desa Gunung Gede, saya tak sempat membeli barang sedikit oleh-oleh khas Blitar untuk keluarga di Kalimantan. Itu karena akses menuju kota lumayan jauh dan dibatasi dengan ketiadaan transportasi, dan begitu ada pun saya harus menyediakan uang yang cukup banyak untuk biaya sewanya. Itulah kenapa saya sedikit sekali jalan-jalan selama berada di Blitar. Jadi, begitu hari kepulangan tiba saya agak sedikit kecewa karena tidak memiliki apa-apa yang bisa dijadikan buah tangan.

Setibanya di bandara Juanda, sambil menunggu waktu check-in saya coba memasuki salah satu toko oleh-oleh. Semua yang dijual di toko itu isinya makanan khas Jawa. Saya tidak terlalu ingat lagi apa saja yang dibeli waktu itu, tapi dua yang tidak bisa saya lupakan, yaitu Brem dan Wingko Babad.

Saya sudah tidak asing dengan yang namanya Brem, tapi Wingko Babad, itu sebuah misteri bagi saya.

Saat itu saya bertanya-tanya, seperti apa bentuknya? Bagaimana rasanya? Sekilas saya membaca komposisi dan menemukan kata-kata kelapa. Wah, kebetulan saya memang suka sekali dengan kudapan yang berbahan dasar kelapa. Akhirnya saya beli dua kotak untuk oleh-oleh, dan sesampainya di Samarinda, saya buka satu kotak, dan mengambil sebungkus wingko.

Packingnya dikemas dalam bungkus kertas, semacam kertas roti yang mudah disobek. Ternyat bentuknya bundar pipih. Tebalnya mungkin sekitar 1 cm. Warnanya kuning kecoklatan dan aroma kelapa yang dibakar. Begitu saya icip segigit, hmm... saya menyesal cuma beli dua kotak.

Rasanya enak sekali, manis dan gurih dari kelapa parut itu benar-benar pecah di mulut. Saya agak galau untuk membaginya dengan kerabat karena terlanjur jatuh cinta dengan rasanya, hihihi... tapi tetap, kembali ke niat awal. Dan akhirnya saya cuma sempat icip 1 bungkus itu saja karena sisanya habis dibagi-bagi.

Setelah mencoba wingko waktu itu, saya belum pernah menyantap kudapan itu lagi, karena wingko agak langka di Samarinda, kalaupun ada yang menjual, saya juga nggak tahu siapa dan di mana.

Nah, jadi beberapa bulan lalu saya berselancar di instagram, nyari-nyari resep baru di akun @doyan_baking dan malah menemukan postingan yang memuat resep wingko. Nggak pake pikir, saya langsung screen shoot resep tersebut, dan beberapa minggu kemudian saya eksekusi. Alhamdulillah berhasil dan rasanya enak, walau teksturenya tidak terlalu keras seperti yang pernah saya beli dulu.

Iseng-iseng wingko itu saya foto dan promosiin di grup bakulan, eh ternyata banyak peminatnya, dan terus berlanjut hingga sekarang. Walaupun sekarang sudah jarang posting wingko, tapi selalu ada aja yang inbox atau wa untuk pesan wingko.

Untuk resep saya dapat di akun IG Doyan Baking yang ditulis oleh @ettyyuni

Wingko Teflon
By: @ettyyuni


Bahan:

1 butir kelapa setengah tua (parut kasar)
250 gram tepung ketan putih
200 gram gula pasir
150 ml air kelapa
1/4 sdt garam halus
1 butir telur utuh
2 sdm margarin (cairkan)

Cara Membuat:

Campur kelapa parut, gula pasir, tepung ketan putih, garam, dan air kelapa. Aduk hingga tercampur rata.

Tambahkan telur, aduk lagi hingga rata. Tuang margarin cair aduk lagi hingga rata. Diamkan adonan sekitar 15 menit.

Panaskan teflon dengan api kecil. Tuang satu sendok makan adonan ke atas teflon. Jika warnanya mulai kekuningan, segera balik.

Jika kedua permukaan wingko sudah kuning kecoklatan, angkat dan hidangkan hangat.

Note:

Saat membalik, sebaiknya adonan jangan ditekan-tekan dengan maksud agar cepat matang. Biarkan saja wingko matang dengan sendirinya. Karena katanya kalau terlalu sering menekan-tekan adonan, akan menghasilkan wingko yang terlalu keras.


Comments

Popular posts from this blog

Cinnamon Roll Tanpa Telur

Roti Maryam aka Canai alias Pratha atau Martabak Surban

Macaroni Schotel