Review: Kembang Gunung Purei
Novel Kembang Gunung Purei
Kembang Gunung Purei ditulis oleh Lan Fang, seorang penulis keturunan Tionghoa berkebangsaan Indonesia. Ini adalah novel pemenang penghargaan Lomba Novel Femina 2003, itulah yang membuat saya tertarik untuk membelinya. Saya membeli novel ini secara online dengan harga murah, mungkin jauh lebih murah dari harga toko.
Saat novel ini datang--bersamaan dengan beberapa novel lainnya-- saya sedikit merasa lucu melihat ukurannya yang terbilang lebih kecil dibanding dengan ukuran novel kebanyakan. Dengan kover berwarna hijau dan ilustrasi seorang wanita berparas manis, sekilas novel ini membuatnya terlihat seperti komik.
Mengenai isi ceritanya sendiri, dalam Kembang Gunung Purei saya menemukan unsur kebudayaan Dayak yang cukup tebal. Saya menemukan sapaan dalam bahasa dayak seperti 'Umaaq' yang berarti bapak dan "Ineen" yang berarti ibu. Ada juga dikisahkan tentang ritual-ritual adat suku dayak seperti upacra Bagondang (upacara adat sehabis panen), nyahuq, belian, dan pernikahan adat Dayak Ngaju. Bahkan, di dalam novel ini juga ada disebutkan soal kutukan dan jampi khas dayak. Ini menjadi nilai plus untuk novel ini, karena kebetulan saya memang suka dengan novel-novel yang mengusung kebudayaan-kebudayaan tertentu. Menurut saya, penulis yang menambahkan unsur-unsur kebudayaan dalam ceritanya adalah penulis cerdas, karena dia tahu bagaimana caranya mengenalkan suatu kebudayaan tanpa terkesan seperti menggurui atau mengajari. Ya, mengingat tidak semua orang suka digurui atau diajari.
Kembang Gunung Purei sendiri berkisah tentang seorang lelaki bernama Nanang Syam. Seorang pekerja keras yang baru saja naik jabatan menjadi head project di wilayah penebangan Hutan Bumban, Kalimantan Tengah. Karena pekerjaannya itu, Nanang pun memutuskan untuk menunda pernikahannya dengan tunangannya yang bernama Ida. Gadis cantik, cerdas, berpendidikan tinggi yang berasal dari keluarga terpandang di Banjarmasin.
Dalam tugasnya menangani penebangan Hutan Bumban, Nanang mengalami kecelakaan yang membuat ia harus kehilangan lengan kanannya. Karena kejadian itu kehidupan Nanang berubah. Dia menjadi pendiam dan kurang percaya diri dengan penampilannya. Ditambah lagi ketika ia mendengar kabar dari orangtuanya, bahwa Ida memutuskan tali pertunangan mereka setelah kunjungannya yang terakhir menemui Ida dengan kondisi tangan kanan yang buntung.
Nanang semakin terpuruk. Ia merasa benci pada dirinya sendiri, pada keputusan Ida, dan ketidak-sempurnaan fisiknya. Untuk menghukum dirinya, Nanang pun memutuskan memperpanjang kontrak kerjanya selama dua tahun lagi di Hutan Bumban. Di saat itulah dia bertemu dengan Bua, seorang gadis Dayak Ngaju yang begitu cantik, polos, bersahaja, dan penuh cinta juga kasih sayang. Nanang pun mulai tertarik pada gadis itu, apalagi Bua terlihat sama sekali tidak jijik dengan kondisi fisiknya.
Novel ini sangat bagus. Karakter tulisannya juga sangat lezat sehingga membuat saya tidak bosan saat membacanya. Lan Fang juga sangat pandai memainkan emosi pembaca. Saya bisa merasakan apa yang dirasakan Nanang ketika musibah menimpa dirinya, terlebih ketika Ida memutuskan pertunangan mereka. Lalu perasaan Bua ketika mendengar percakapan Nanang dan ayahnya.
Dan untuk akhir ceritanya sendiri ... jujur saya kurang puas. Seperti ada yang mengambang. Bayak yang belum selesai. Seperti pesan dari penulisnya sendiri, buku ini tidak pernah selesai.
Terima kasih sudah membaca ^^

Comments
Post a Comment