Review: Cherish You


Assalam'ualaikum

Hari ini saya mau review salah satu novel yang ditulis oleh Irfa Hudaya terbitan Orange tahun 2015 lalu, judul novelnya Cherish You.

Saya beli buku ini pertengahan 2016 lalu, tapi nggak pernah sempat baca karena tertumpuk dengan buku-buku lain yang juga belum dibaca. Waktu itu saya lagi sibuk-sibuknya nulis novel online buat website novel.id jadi kegiatan membaca saya berkurang, dan saya jadi punya banyak hutang dengan buku-buku yang belum dibaca itu.

Alhamdulillah akhirnya tahun ini kegiatan menulis saya berbanding terbalik dengan tahun kemarin, alias nggak ada proyek menulis sama sekali, hahaha.

Tapi nggak menulis bukan berarti saya jadi punya banyak waktu untuk membaca. Saya memutuskan keluar dari dunia yang membuat saya dekat dengan buku. Saya cari kesibukan lain dengan nge-baking dan merajut, but finally... saya nggak bener-bener menyukai kedua hal itu. Saya tidak menikmatinya seperti saat membaca buku atau menulis.

Buku adalah sesuatu yang membuat saya merasa berada di dunia yang sebenarnya, dan menulis membuat saya menjadi diri sendiri. Pertengahan Agustus kemarin saya memutuskan untuk kembali ke dunia itu, membaca dan kembali menulis. Tapi mungkin nggak nulis cerpen atau cerita apa pun lagi kali ya. Cukup nulis review macam ini aja, dan saya merasa nyaman lagi.

Okey, that's enough buat curhat nggak pentingnya, hehehe...
Cus, kita langsung aja ke review-nya.

Cherish You
Ketika hati menemukan rumahnya.


Bisakah kalian membayangkan harus menikahi ipar sendiri? Pastinya kacau balau ya. Itulah yang dialami Rifka dan Mahira, tokoh utama dalam novel ini.

Berawal dari kematian Aini, istri Mahira sekaligus kakak kandung Rifka, yang disebabkan oleh Eklampsia: keracunan kehamilan pasca melahirkan.

Rifka yang baru saja menyelesaikan pendidikan S I nya terpaksa harus mengurus Aqiela, anak kakaknya. Dia sama sekali tidak keberatan melakukan hal itu. 

Mahira yang menduda, setiap hari datang berkunjung ke rumah mertuanya untuk melihat keadaan Aqiela. 

Ibu mertuanya merasa iba kepada Mahira, dan kemudian mengusulkan agar Mahira menikahi Rifka. Hal ini dikemukan bukan tanpa alasan. Ibu mertuanya sangat menyayangi Mahira, dan tidak mau kehilangan Mahira ataupun Aqiela jika suatu hari nanti Mahira menikah lagi dengan wanita lain.

Tentu saja usulan itu tidak langsung diterima oleh Mahira, sedangkan Rifka langsung menolaknya mentah-mentah. Rifka berpikir mana mungkin dirinya bisa menikahi lelaki yang pernah menjadi istri kakaknya, lagi pula di dalam hatinya, Rifka menyayangi lelaki lain, walaupun pada kenyataannya dia tidak bisa bersatu dengan lelaki tersebut.

Wasiat dari Aini yang ditemukan Mahira pada akhirnya membuat mereka tak berkutik. Keduanya pun menikah.

Permasalahan terjadi setelah keduanya menikah. Dua watak yang berbeda. Mahira yang dewasa dan Rifka yang kekanakan dan belum bisa move on dari masa mudanya membuat sepasang suami istri ini selalu bertengkar hampir setiap hari.

Walaupun keduanya sering bertengkar bukan berarti novel ini penuh dengan drama tragedi rumah tangga, namun sebaliknya ketidak-cocokan sifat Mahira dan Rifka membuat jalinan kisah keduanya menjadi lucu, menggemaskan, dan manis.

Saya suka bagaimana penulis menyampaikan isi cerita ini dengan begitu manis. Narasinya mengalir dan membuat pembaca menjadi tidak ingin menutup novel itu sebelum menghabiskannya.

Terdapat dua sudat pandang dalam novel ini, yaitu Mahira dan Rifka, sehingga memudahkan pembaca untuk menyelami karakter kedua tokoh tersebut.

Secara tekhnis novel ini benar-benar memuskan. Namun, dibalik novel yang memuaskan pun selalu memiliki sedikit kekurangan. 

Saya sedikit bermasalah dengan konflik di dalam novel ini. Sebenarnya saya gemas sama Mahira, kenapa lelaki yang berpikiran dewasa seperti dia tidak bisa tegas pada diri sendiri dan membiarkan Rifka menduga-duga. Selain itu konflik dalam novel ini juga terasa biasa saja, dan sekali lagi saya kesal sama Mahira karena dia menunggu begitu lama untuk menyelesaikan masalah dalam rumah tangganya.

Lalu, di beberapa bab terakhir, saya juga merasa Mba Irfa seperti kehilangan nyawa dalam tulisannya. Saya kehilangan kenyamanan yang saya dapat dari membaca di bab-bab awal hingga pertengahan. But, it's okey, Mbak Irfa tetap dapat mengemas kisahnya dengan baik.

Dan sebagai penutup, walaupun sampai sekarang saya masih kesal sama Mahira tapi saya tetap menghargai usahanya dan puas dengan ending novel ini yang ... lagi-lagi bikin saya gemes.

Okey, buat kamu yang suka baca novel romance, kamu wajib baca novel ini. Saya berani jamin kamu bakal sama gemesnya dengan saya, dan kamu juga bakal senyam-senyum sendiri dengan keromantisan mereka berdua.

Akhir kata, terima kasih sudah berkunjung ke sini 😊

Langit Rinjani
Samarinda, 25 September 2017









Comments

Popular posts from this blog

Cinnamon Roll Tanpa Telur

Roti Maryam aka Canai alias Pratha atau Martabak Surban

Macaroni Schotel